TEKS SULUH


Jumat, 22 November 2013

Rini Intama

Rini Intama

Lahir di Garut 21 Februari, tetapi tumbuh dan besar di Jakarta.
Kesukaan menulis dan belajar sastra sejak dibangku SMP, kemudian kuliah dijurusan Informatika dan bekerja diluar jalur sastra. Tetapi keinginannya tetap menjadi penulis.
Selain puisi juga menulis cerpen dan novel.
sudah dua buku Antologi Puisi yang diterbitkan yaitu
1.Ruang Jingga, Antologi Puisi 12 penyair jingga
2.Phantasy Poetica, Antologi puisi komunitas penulis muda

Perempuan itu menulis puisinya

pada sebuah lagu kutitip makna syair, nada dan irama yang sempurna
tentang perempuan yang meninggalkan tangisan
pada petapeta sajak di tubuhnya yang sunyi
serupa petualang yang memahat cinta hingga berlabuh di dermaga
Lalu memutuskan pulang dari perjalanan yang panjang

Perempuan itu menulis puisi,

Hidup ini ada di bawah kaki yang berdiri tegak di atas batu dingin
mengikuti jalan angin

Serupa lukisan abstrak yang bermakna besar
Serupa syairsyair cinta yang tak tertebak
Dari seorang penyair yang melagukan puisi rayuan semerbak mawar 

cericit burung melempar ribuan tanya pada belukar

Berapa banyak anakanak lagikah akan lahir dari persetubuhan alam ?
Berapa banyak perempuan lagikah yang akan lahir dari rahim puisipuisi cinta ? 
atau wajah penuh amarah yang akan lahir dari percikan api di langit malam ?

tapi bukankah kita terlahir untuk dan karena sebuah alasan
bahwa hidup serupa jalan di loronglorong waktu yang gulita
dan membaca kata di panggung kosong tanpa suara

Perempuan itu menghentikan puisinya,

Ah aku melangkah menghitung detik yang menimbun luka tanpa kata
tak perlu lagi ada tanya tentang berapa, apa dan bagaimana
hingga waktu bertanya dalam bahasanya, sampai di manakah perahu akan berlayar ?
memecah rindurindu menuju jalan kembali pada tanah asal

Maret 2011

Dipersimpangan yang lindap

ku tebas pedang karat di pucuk rindu senyap
ku pinang darah pekat di dada nafasku megap
di langit kisah kuat mengendap

roda pagi arah barat melintang merah lambat
angin resah suara lamat habis terlumat

debu debu sapu sendu

habiskan beku
habiskan waktu
habiskan rindu

:: sembilan Juni 2010
Rini Intama - dalam buku Phantasy Poetica

Lagu sang Hujan

Lagu sang hujan menarik larik
disetiap catatan peristiwa dalam jambangan cantik
ketika menemukan segaris senyum di dongeng lirik

Sang hujan berlari mengejar mimpi tak kunjung temu
keinginan menjadi sebuah kemustahilan di negeri angin
Langit kelabu menyanyikan lagu hujan

butir air adalah pesona kekalahannya yang patut
menepis keinginan, bertaruh nyawa
dan sebuah kata bermakna nama
yang mungkin carut marut
mengusung sorak penghuni bumi

Tapi sang hujan mematut diri
sebagai kelayakan dalam cermin usang
dan coreng warna jelaga
Langit tetap memerah
lagu sang hujan mengalun

Delapan April 2010

Puisi Hati - Sebuah puisi kecil

mengerti secara sederhana saja
tak menghilang makna
seperti doa dan cerita dini hari
menyaji diri dengan teropong hati

Tgr 6 Sept 2010

Layanglayangmu

kau datang tanpa mawar
Hanya benang dari layanglayang yang sudah kau terbangkan di pantai
Kau berbisik, kubawakan layanglayang ini untukmu
Kukirim kisah tentang hidup yang siap di terpa badai dan angin
lalu bergerak kemana arah mata angin membawa

Kita tertawa pada layanglayang berbentuk kupukupu hitam besar bernoktah kuning
yang menggantung di langit seperti terik yang mengirimkan cahaya dari balik hening

ada bayanganmu di sana
juga rindu yang menjelma doadoa
dan bersamamu kerinduanku meleleh seperti lilin yang terbakar api
seperti gelora ombak dan tarian kehidupan di antara awan dan kepakkepak camar

layanglayangmu di Slamaran mengurai mimpi dan kisahkisah panjang
jejak menapak di pasir lalu menghilang tersapu ombak
melepas tawa seusai siang menunggu hingga langit jingga
layanglayangmu kembali turun menyimpan gelisahnya sendiri

Slamaran dan debur ombak
mengabarkan terik siang dan kesiur angin

kita memang hanya mampu menelusuri pantai ini

Maret 2011