TEKS SULUH


Minggu, 25 November 2018

Sami’an Adib Teatrikal

Sami’an Adib
Teatrikal

di sebuah jembatan dengan luap air yang membesar
sesaat setelah hujan menderai ribuan kabar
tentang air yang tak menemukan sulur akar-akar

orang-orang berdatangan saling berdesakan
menyaksikan air bah dari sisi jembatan
lupa kalau peristiwa ini sebuah peringatan

keriap air menampar tumpukan sampah yang tiba-tiba menjulang
melampaui permukaan sungai, meliuk-liuk menjelma kubang
dan dentum batu-batu yang saling beradu mencipta gaung

jerit kematian tiba-tiba melengking bersahutan
gelondong kayu menghantam tiang penyangga jembatan
yang beberapa waktu lalu diresmikan pejabat setempat

sebuah pertunjukan paling teatrikal
menyisakan tumpukan sampah peradaban:
batu-batu beton reruntuhan jembatan
bongkol kayu dengan akar kaku bekas pohon-pohon
hutan yang sengaja ditanduskan
plastik yang terus menerus dilarung
di sepanjang alur aliran sungai yang kian mengeruh

Semua membisu
semua membatu
tak ada yang peduli
pejabat yang dulunya berapi-api menebar janji
untuk membangun kampung, meretas desa, menata kota
tak kelihatan entah studi banding ke negara mana
konglomerat yang dengan lihainya merayu pejabat
lewat dalih eksplorasi hutan demi kemakmuran rakyat
menghilang bersama keping-keping muslihat
yang sejak mula disembunyikan di balik senyum seribu pikat
hanya lalat yang benar-benar peduli
menjadi penanda bagi mayat-mayat yang perlu dievakuasi
Jember, 2018















Sami’an Adib

Telanjang
1/
ditemani perempuan-perempuan genit yang mahir merapal mantera rayuan
kau, tuan penguasa, duduk bersila di tepi peti mati memulai ritual perburuan
bersulang anggur darah dari saudaranya yang sengaja dijadikan sapi perahan
2/
perempuan-perempuan berlidah api itu gemulai menjinjing seikat kembang
sedangkan kau mabuk di sampingnya, limbung menahan erang dan gelinjang
seketika cemar malam menebar nista di setiap  nganga lukamu yang meradang
3/
kau peram segenggam bara di balik sampir pelacur yang nyaris mati kelaparan
sebagai derma atas kuasa yang tahta rumuskan dalam butir-butir pelampiasan
lalu dengan dua-tiga hitungan kaumainkan orkestra jerit yang tak terumuskan
4/
diam-diam engkau menyelinap keluar dari kamar api yang kausangka penuh bidadari
sambil memanggul serpih kemenangan dalam buntelan selendang yang dulu kaucuri
entah apa yang tersisa, tapi dari caramu menyeringai pasti banyak orang tersakiti 
5/
seakan tanpa sesal, dari atas singgasana kau dongengkan kepongahan diri
juga tentang anak-bininya yang selalu sempurna mendapat asupan nutrisi
meski dari sehimpun jarahan dan ragam upeti
6/
entah pada simpang mana akan kautemukan gerbang kembali
pijakan awal menilasi ulang jalan ilahi yang sempat kauingkari
melepas semua kemewahan atribut: selubung bagi bening nurani
Jember, 2016









Sami’an Adib, lahir di Bangkalan tanggal 15 Agustus 1971. Alumni Fakultas Sastra Unej. Karya-karya tersebar di beberapa media massa. Antologi puisi bersama antara lain: Requiem Buat Gaza (Gempita Biostory, Medan, 2013), Ziarah Batin (Javakarsa Media, Jogjakarta, 2013), Cinta Rindu dan Kematian (Coretan Dinding Kita, Jakarta, 2013), Ensiklopegila Koruptor, Puisi Menolak Korupsi 4 (Forum Sastra Surakarta, 2015), Kata Cookies pada Musim (Rumah Budaya Kalimasada Blitar, 2015), Merupa Tanah di Ujung Timur Jawa (Universitas Jember, Jember, 2015), Kalimantan Rinduku yang Abadi(Disbudparpora Kota Banjarbaru-Dewan Kesenian Kota Banjarbaru, 2015), Lumbung Puisi IV: Margasatwa Indonesia (2016), Memo Anti Kekerasan terhadap Anak (Forum Sastra Surakarta, 2016), Ije Jela Tifa Nusantara 3 (2016), Requiem Tiada Henti (Dema IAIN Purwokerto, 2017),  Negeri Awan (DNP 7, 2017),  Lumbung Puisi V: Rasa Sejati (2017), PMK 6 (2017), Lebih Baik Putih Tulang daripada Putih Mata (2017),  Menderas Sampai Siak (2017), Timur Jawa: Balada Tanah Takat (2017), Hikayat Secangkir Robusta (Krakatau Awards 2017), Perjalanan Sunyi (Jurnal Poetry Prairie 2017), Negeri Bahari (DNP 8, 2018), Lumbung Puisi VI:Indonesia Lucu (2018), Kepada Toean Dekker (2018), dan lain-lain. Aktivitas sekarang sebagai tenaga pendidik di sebuah Madrasah di Jember.