TEKS SULUH


Selasa, 18 Juni 2013

SERIBU MASJID SATU JUMLAHNYA, SEPENGGAL PUISI CAK NUN

SEPENGGAL PUISI CAK NUN
Oleh : 
Emha Ainun Najib
sayang sayang kita tak tau kemana pergi 
tak sanggup kita dengarkan suara yang sejati 
langkah kita mengabdi pada kepentingan nafsu sendiri 
yang bisa kita pandang hanya kepentingan sendiri
loyang disangka emas emasnya di buang buang 
kita makin buta yang mana utara yang mana selatan 
yang kecil dibesarkan yang besar di remehkan 
yang penting disepelekan yang sepele diutamakan
Allah Allah betapa busuk hidup kami 
dan masih akan membusuk lagi 
betapa gelap hari di depan kami 
mohon ayomilah kami yang kecil ini 


SERIBU MASJID SATU JUMLAHNYA
Oleh : 
Emha Ainun Najib
Satu 
Masjid itu dua macamnya 
Satu ruh, lainnya badan 
Satu di atas tanah berdiri 
Lainnya bersemayam di hati
Tak boleh hilang salah satunyaa 
Kalau ruh ditindas, masjid hanya batu 
Kalau badan tak didirikan, masjid hanya hantu 
Masing-masing kepada Tuhan tak bisa bertamu
Dua 
Masjid selalu dua macamnya 
Satu terbuat dari bata dan logam 
Lainnya tak terperi 
Karena sejati
Tiga 
Masjid batu bata 
Berdiri di mana-mana 
Masjid sejati tak menentu tempat tinggalnya 
Timbul tenggelam antara ada dan tiada
Mungkin di hati kita 
Di dalam jiwa, di pusat sukma 
Membisikkannama Allah ta’ala 
Kita diajari mengenali-Nya
Di dalam masjid batu bata 
Kita melangkah, kemudian bersujud 
Perlahan-lahan memasuki masjid sunyi jiwa 
Beriktikaf, di jagat tanpa bentuk tanpa warna
Empat 
Sangat mahal biaya masjid badan 
Padahal temboknya berlumut karena hujan 
Adapun masjid ruh kita beli dengan ketakjuban 
Tak bisa lapuk karena asma-Nya kita zikirkan
Masjid badan gmpang binasa 
Matahari mengelupas warnanya 
Ketika datang badai, beterbangan gentingnya 
Oleh gempa ambruk dindingnya 
Masjid ruh mengabadi 
Pisau tak sanggup menikamnya 
Senapan tak bisa membidiknya 
Politik tak mampu memenjarakannya
Lima 
Masjid ruh kita baw ke mana-mana 
Ke sekolah, kantor, pasar dan tamasya 
Kita bawa naik sepeda, berjejal di bis kota 
Tanpa seorang pun sanggup mencopetnya
Sebab tangan pencuri amatlah pendeknya 
Sedang masjid ruh di dada adalah cakrawala 
Cengkeraman tangan para penguasa betapa kerdilnya 
Sebab majid ruh adalah semesta raya
Jika kita berumah di masjid ruh 
Tak kuasa para musuh melihat kita 
Jika kita terjun memasuki genggaman-Nya 
Mereka menembak hanya bayangan kita
Enam 
Masjid itu dua macamnya 
Masjid badan berdiri kaku 
Tak bisa digenggam 
Tak mungkin kita bawa masuk kuburan
Adapun justru masjid ruh yang mengangkat kita 
Melampaui ujung waktu nun di sana 
Terbang melintasi seribu alam seribu semesta 
Hinggap di keharibaan cinta-Nya
Tujuh 
Masjid itu dua macamnya 
Orang yang hanya punya masjid pertama 
Segera mati sebelum membusuk dagingnya 
Karena kiblatnya hanya batu berhala
Tetapi mereka yang sombong dengan masjid kedua 
Berkeliaran sebagai ruh gentayangan 
Tidak memiliki tanah pijakan 
Sehingga kakinya gagal berjalan
Maka hanya bagi orang yang waspada 
Dua masjid menjadi satu jumlahnya 
Syariat dan hakikat 
Menyatu dalam tarikat ke makrifat
Delapan 
Bahkan seribu masjid, sjuta masjid 
Niscaya hanya satu belaka jumlahnya 
Sebab tujuh samudera gerakan sejarah 
Bergetar dalam satu ukhuwah islamiyah
Sesekali kita pertengkarkan soal bid’ah 
Atau jumlah rakaat sebuah shalat sunnah 
Itu sekedar pertengkaran suami istri 
Untuk memperoleh kemesraan kembali
Para pemimpin saling bercuriga 
Kelompok satu mengafirkan lainnya 
Itu namanya belajar mendewasakan khilafah 
Sambil menggali penemuan model imamah
Sembilan 
Seribu masjid dibangun 
Seribu lainnya didirikan 
Pesan Allah dijunjung di ubun-ubun 
Tagihan masa depan kita cicilkan
Seribu orang mendirikan satu masjid badan 
Ketika peradaban menyerah kepada kebuntuan 
Hadir engkau semua menyodorkan kawruh
Seribu masjid tumbuh dalam sejarah 
Bergetar menyatu sejumlah Allah 
Digenggamnya dunia tidak dengan kekuasaan 
Melainkan dengan hikmah kepemimpinan
Allah itu mustahil kalah 
Sebab kehidupan senantiasa lapar nubuwwah 
Kepada berjuta Abu Jahl yang menghadang langkah 
Muadzin kita selalu mengumandangkan Hayya ‘Alal Falah!
1987