TEKS SULUH


Jumat, 10 April 2015

Apa Kata Penyair Ali Syamsudin Arsi tentang Lumbung Puisi jilid III



Ali Syamsudin Arsi

Ruang Terbuka Imajinasi

   Terbuka, ruang jelajah tema tak jauh dari gerak tubuh sendiri hingga mampu masuk sampai ke celah-celah terjauh, celah-celah terdalam. Ini kepada puisi, terkadang kepada ruang lain mungkin sulit melangkah karena pengurai ‘benang kusut setiap pikiran dan perasaan’ entah sebagai logika nyata secara kasat mata atau mengaduk-aduk angka demi angka bahkan hitungan demi hitungan dari bongkahan besar berpanjang digit sampai pula kepada pecahan-pecahana selain satuan, puluhan, ratusan, ribuan, jutaan, milyar bahkan triliunan – bukankah itu yang diotak-atik oleh regim penguasa – dari laporan paling bawah ke bentuk laporan paling atas sebagai bentuk bahwa sekian yang dikeluarkan dan sekian didapatkan.
   Kepada puisi, kepada diri sendiri, kepada kata, kepada makna, kepada ruang terbuka bernama imaji.
Terbuka ruang jelajah imajinasi.
   Bila saja “Perempuan Desa” itu memasuki ruang istana maka ia jelas akan menjadi pusat penglihatan semua pasang mata, tak berkedip, sekejap juga tak mau lepaskan pandang. Tak sampai di situ tentunya, gemulainya lembut telapak kaki di gemericik air gunung berbatu-batu, maka desirlah kehadiran gerai lentik bulu matanya, senyumnya adalah rona merah pipinya. Indonesia, kita sangat memilikinya, karena Indonesia mengerti ranum embun di rimbun daun.
Terbuka ruang jelajah imajinasi bernama Indonesia dalam rona merah dan pelupuk mata perempuan desa.
   Sampai detik ini sejauh mana Indonesia melupakan keluguan ucap dan gerak gemulainya. Indonesia, teramat jauh melangkah hingga samar dari getar-getar yang ada di dalam syaraf tubuhnya sendiri, kepada puisi kepada ruang terbuka imajinasi. Melupakan lumbung remah-remah bulir padi adalah awal langkah kehilangan dan mengundang datang segala bentuk tragedi. Indonesia hari ini juga untuk Indonesia nanti.  //Salam gumam asa, Banjarbaru, 5 April 2015.