TEKS SULUH


Jumat, 10 April 2015

Apa kata Sofyan RH. Zaid tentang Lumbung Puisi Jilid III



Sofyan RH. Zaid
Melanjutkan Sejarah
   Rg Bagus Warsono adalah salah satu -dari sedikit orang- yang sadar pentingnya dokumentasi (sastra) untuk berlangsungnya sebuah sejarah, sebab –meminjam kalimat Maman S Mahayana- lupa dokumentasi, maka tuna sejarah.
Kesadaran tersebut diwujudkan dengan cara mengundang para penyair indonesia mengirimkan puisi dengan tema tertentu dan diseleksi, kemudian secara mandiri dikumpul-terbitkan dalam satu buku tiap tahunnya. Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia jilid I dan II adalah buku yang telah beredar di khalayak, selanjutnya jilid III ini.
   Terlepas dari buku tersebut sebagai dokumentasi sastra atau bukan, upayanya layak mendapat apresiasi yang tinggi. Sebagaimana lazimnya buku dokumentasi sastra yang lahir dan menjadi perdebatan yang hangat, pro dan kontra tidak bisa dihindari; siapa nama-nama yang masuk dan siapa yang melakukan dokumentasi. Namun hal itu merupakan sesuatu yang wajar sebagai sebuah dinamika, pertanda sastra masih ada.
    Hanya di antara riuh perdebatan dan kritik pedas itu, kita kadang lupa bahwa H.B Jassin sekalipun yang dikenal sebagai kritikus adalah sosok yang sabar melakukan kerja dokumentasi sepanjang hidupnya. Bayangkan jika H.B Jassin tidak pernah ada dalam sejarah sastra kita. Itulah kenapa A Teeuw sangat yakin bahwa; kerja pertama seorang kritikus sastra adalah dokumentasi karya.
   Secara jujur, saya ucapkan terima kasih kepada Rg Bagus Warsono atas perjuangan dan sumbangsinya bagi sejarah, selebihnya biarlah sastra sebagai benda hidup budaya yang menunjukkan siapa diri kita sebenarnya terus berjalan dan berubah, seperti perempuan dan cuaca. “Pendek kata, saya tidak perlu ambil pusing mengenai penilaian yang akan diberikan masa depan pada hasil karya saya, karena saya tidak dapat berbuat apapun terhadap penilain itu,” kata Jean-Paul Sartre.
11 April 2015