TEKS SULUH


Senin, 11 Juni 2018

Sedekah Puisi , Tadarus Puisi 2 , No. 21-30


21.

Alek Brawijaya

Poneglyph Dalam Sebuah Kicauan

Alek Brawijaya
terbanglah pandanganku!
seperti terlepas dari ikatan
dan kepakkan sayap perlahan menghempas angin
menaburkan debu yang selama ini
menjadi selimut dari tidurnya.
aku yang tersudut di samping jendela
merasakan sebuah aura yang memanggilku
ketika sorotan jatuh keluar melihat kerimbunan pepohonan melambai
untuk singgah pada awal sebelum nabi adam diturunkan ke bumi
kembali pada abad kekosongan
dan menjadi fitrah tak berdebu
adalah naluri dari setiap kicauan
yang bersarang di dalam dada
hanya saja butuh puingpuing prasesti
untuk merangkai menjadi kerangka yang harmonis
dan menapak-tilaskan rangkaian silsilah dalam sejarah
hingga menjadi sebuah cerita, muasalnya surga.
Teluk Kijing, Juni 2017







Alek Brawijaya

Mazhab Bulan

Kepada risalah malam
yang selalu bersenandung semililir angin bisu
berdakwahlah dengan gairah bintang!
berkelipan seperti jemari kunang-kunang dari kuku sang leluhur.
Telah ku temukan kerimbunan temaram dalam ruh
berirama selaras dengan waktu
saat awan hitam berlari dari kejauhan cahaya bulan.
Lalu dia mengintaiku setelah mataku terjatuh
menemui ketidaksadaran untuk bermimpi
membangun silsilah melalui pertikaian yang harmonis
dari sisi perputaran waktu dan pergantian jejak
atau deretan malam yang beralun dalam kesunyian
Kucatat semuanya dalam satu malam
sampai tiba fajar akan kugabungkan
menjadi sebuah mazhab perjalanan menuju bulan
bulan kesekian atau bulan kesepian.
Teluk Kijing, Juli 2016











22.

Bambang Widiatmoko

Idul Fitri di Bukit Barchan

Menjelang ombak kian pasang
Kita berjalan menyibak deretan pohon pandan
Memenuhi bukit-bukit Barchan
Di tepi pantai laut selatan
Sejauh mata memandang - debur gelombang.

Kita telah duduk melipat kaki
Terasa butiran pasir menjalar di kanan dan kiri
Mendengar dengan khidmat kotbah Idul Fitri
Lantas begitu saja kusadari
Di tepi pantai ini - kekosongan hati.

Seperti permukaan pasir yang dipermainkan angin
Membentuk  mozaik yang selalu berubah bentuk
Lalu aku kembali tertunduk saat angin datang mengetuk
Seolah ingin menunjukkan - di hadapanmu terbentang laut
Dan kamu hanyalah sebutir pasir yang selalu terantuk.
2018






23.

Suhendi RI

Nirvana

Demi mencapai kesejatian paling hakiki
Ia tanggalkan pakaian duniawi
Samsara, karma, reinkarnasi
Jiwa suci
Menyepi
Dalam kefanaan ia mengasingkan diri
Menembus batas semu surgawi
Menuju jalan budhi
Gelap sunyi
Abadi
Cikarang, 16 Januari 2018

















24.

Harkoni Madura

Cemara Udang Pantai Lombang

sepagi ini cemara udang mulai melarung keteduhan
menidurkan usikan terik yang mulai menisik
bulir-bulir embun semalaman singgah
tipis jejaknya masih menikahi landai tanah
di antara pekikan camar
dan senggak ombak yang menyetubuhi jangkar
sapuan pucuk daun-daunnya mengisyaratkan ihwal pendakian
mengupak semestaku menuju rute-rute rindu
hampar pasir dan ikan-ikan yang berenangan
masih menjinjing sakaw dzikir penghujan
hingga pada jingkrak tubuh-tubuh sampan
kujumpa rekah jalan sebasah kayuhan firman
menyambut denyut senja yang berarak
kusyahadatkan kedirian lewat basuhan sajak-sajak
selagi jazad tak uzur meredup
selagi degup belumlah surup
Banyuates, 25 Maret 2018










25.

MayaAzeezah

Maafkanlah

Langit biru sisa hari-hari pengampunan
Dicurah mega menggumpal
Sinar putih sebagai tanda misteri
Apakah gerangan?

Memperlihatkan Hisab?
Amal perbuatan selama ramadhan
Ya, aku tercantum paling hitam
Pada buku-buku malaikat

Mungkin lebih putih awan-awan berarak
Meski siang rela menahan lapar dan kering tekak
Malam tak tidur nyenyak
Noda tak begitu saja lesap

Astagfirullah,
Hamba sering silap menyemat kata maaf
Berpegang teguh kepadaMu Allah
Namun meninggalkan tali perikatan terhadap sesama

Sungguh!
Manusia dicipta
Penuh alpa
Penuh keluh
#MayaAzeezah040618

26
Riswo Mulyadi
Apakah Aku Puasa
apakah aku puasa
jika lidahku masih sibuk menyusun kata-kata untuk melukai dada orang lain

apakah aku puasa
bila tak mampu memangkas nafsu

apakah aku puasa
jika seharian menahan lapar seraya menumpuk menu untuk berbuka

jika pun aku puasa
apakah akan kembali ke fitri
jika lebaran kujadikan ajang riya

21 Mei 2018










26.

Faisal ER

Sebuah Catatan Ramadhan

Di ujung sajadah
aku memeluk air matamu
Menari dalam kenangan
Sebagian yang lain
mengejar impian sampai ke langit
Mengubah dirinya menjadi bahasa tubuh,
seperti puisi diam dalam makna.

Dalam perjalanan Ramadhan
Jiwaku menyelusup dalam tubuhmu
saling berkejaran mengejar bayangan
Meraih cinta Tuhan
Namun sunyi membakar sepiku
Raiblah doa-doa dalam munajahku

Namun tangismu terdengar nyaring
Menunggu lailatul qodhar yang nyaris
Mulutmu yang gagap dan tanganmu yang lemah
Tak kuasa menggapai meskipun melambai
Doamu membakar sunyi yang sepi
Sujudmu kesenyapan yang sendiri

Sumenep, 11 Juni 2018





27.

Air mata jiwa

Ramadhan,
: Perjalan menahan nafsu
Menahan segala yang kita mau
Menahan segalagala yang kita rindu
Yang menggebu-gebu dalam lubuk kalbu.
Wahai ruh,
: Yang bersetubuh dalam jasad,
Bimbing Nurku. Siram, bersihkan
Bersama air suci dan zikir-zikir hening
Sampai air mata jiwaku mengalir,
Dari bilik-bilik lembah mata jiwaku.
Ya Nur Muhammad
Ya Nurrullah,
: Bimbing Aku menuju
Kebenaran ajaranMu.
Subhanallah
Walhamdullillah
Walaillahaillallah
Allah huakbar
Kubasuh air mata jiwaku.
Kota LINTAS, 5 Juni 2018.











28.

Zaeni Boli

Malam Hampir Lebaran

hanya taburan bintang di langit
Daun daun bergosip angin berisik
Yang Mulia hampir pergi
Meninggalkan kita yang papah
Adalah kita beserta kita yang masih menempel
Adakah cinta
Masih menempel di hati kita
Saat Ramadhan berlalu
Tak ku lihat airmatamu
Zaeni Boli
Flores ,Larantuka




















29.

Agustav Triono

Ramadhan dan Syawal  


Ramadhan dan Syawal adalah sebuah penantian sekian purnama berlalu leliku hidup perjalanan
Seclurit bulan penanda kedatangan dinanti dengan gembira hati
Harihari bertabur religi
Pun berhias hargaharga melambung tinggi
Ramadhan dan Syawal adalah sebuah perjumpaan
Saat kepak sayap malaikat menjaring doadoa bumi
Dari bibirbibir kering dahaga
Melangitkan harap dan asa terkabullah agar tak cuma lapar saja
Dan ibadah bukan kerna ingin dipuji tetangga
Ramadhan dan Syawal adalah sebuah kerinduan
Bila bertemu ingin erat selalu bila hendak pergi tak mau lepas lagi
Dan bulanbulan akan terus berjalan menggilas penanggalan
Hikmah janganlah dibawa pergi
Agar rahmatnya menghias harihari
Mengabadi.
11-Juni-2018









30.

Barokah Nawawi
Pencari Zakat

Senandung pagi ini pedih mengiris hati
Ibu-ibu paruh baya berbaris mengetuk pintu hati
Di sepanjang rumah zakat kota santri.

Ketukan pintu pagi ini membuatku menangis
Ke manakah perginya kesadaran harga diri
Hingga demikian mudah menadahkan tangan kefakiran
Mengetuk tanpa malu pintu-pintu derma yang terbuka.

Ibu-ibu paruh baya yang masih kuat berlari
Terus berlari menyongsong derma yang mengalir
Dari rumah ke rumah sampai ke sudut kota yang terpinggir
Berselubung tatapan letih dan wajah yang menghiba.

Di ujung kota mereka berpelukan
Dengan wajah sumringah berbagi kebahagiaan
Besok aku bisa bayar uang sekolah anak-anakku
Besok aku bisa membeli kalung impianku
Besok aku bisa membeli sebidang sawah
Besok aku bisa membangun rumah.

Ibu-ibu paruh baya yang lembut hati
Sesungguhnya kau adalah wanita yang solehah
Sayang jiwa fakirmu telah menutupkan tirai-tirai sorga
Hingga cahya-Nya yang cemerlang menjadi redup
Menghilang di aura wajah cantikmu.

Semarang, Juni 2018