TEKS SULUH


Kamis, 24 Oktober 2013

Cerpen NANING PRANOTO

Cerpen NANING PRANOTO

“Mama! Mama!”
Tiba-tiba ada balagita, seorang anak perempuan berusia sekitar lima tahun, memanggilku mama. Ia juga memelukku erat-erat. Itu terjadi, di suatu sore ketika aku cuci mata di sebuah mall, di kawasan E de los Santos Ave, pusat bisnis di Makati – Manila, Filipina. Kawasan ini juga dikenal dengan sebutan EDSA, berada di wilayah Forbes Park, “ghetto”-nya orang-orang superkaya di Filipina..

Tentu saja aku bingung, dipanggilnya mama. Veronica, temanku yang sore itu bertindak sebagai guide-ku selama di Manila, juga ikut bingung.

“Vero! Bagaimana ini?” reaksiku kemudian, karena balagita itu menarik-narik rokku. Ia berambut hitam tipis kemerahan, dikuncir dengan pita kuning. Tubuhnya kurus, berkulit coklat gelap, bergaun motif bunga merah kusam. Ia hanya bersandal karet. Dari penampilannya, jelas ia bukanlah balagita gedongan kawasan Forbes Park.

“Ini bukan mamamu. Nak!” Vero memberitahu si balagita dengan bahasa Inggris yang dieja lembut. “Okey?”
Kemudian, balagita itu menangis kencang dan menarik perhatian banyak orang.
“Balagita siapa? Anak siapa? Balagita siapa?” pertanyaan serupa berdatangan dari orang-orang sekitarku, yang lalu mengerumuni aku, Vero dan si balagita.
Vero menggeleng, “Tiba-tiba saja balagita ini muncul – mengejar kami dan memanggil temanku mama,” Vero menunjukku, untuk menegaskan..
“Bawa saja ia ke informasi, umumkan sebagai anak hilang,” saran seorang perempuan bergaun kuning, bersanggul tinggi, parfumnya beraroma lavender..
“Serahkan saja ke Lost and Found!” seru perempuan bergaun merah, congkak.
“Oh, terlalu. Anak kok dianggap barang!” seorang laki-laki tua ngedumel, tidak rela, bila si balagita diserahkan ke bagian Lost and Found.
“Habis mau apa? Kalau kita tolong, bisa-bisa kita dituduh penculik anak, lalu orangtuanya minta kompensasi uang,” sembur perempuan ber-make-up tebal..
“Apa maksud Anda?” tanya Vero spontan. Aku juga ingin tahu maksud kalimat itu.

“Anda belum tahu ya? Sekarang ini, ada tipuan model baru. Ada pihak-pihak tertentu yang melepas anaknya di mall, lalu anak yang dilepas itu menangis. Siapa pun yang menolong anak yang menangis itu, oleh orangtua si anak, dituduh sebagai penculik anaknya. Lalu ia mengancam melaporkan orang yang dituduhi menculik anak itu ke polisi. Bila orang yang dituduh sebagai penculik itu tidak mau dilaporkan ke polisi, lalu diperas..Ia dimintai sejumlah uang…!”

“Wow, ngeri!” seru orang-orang yang mendengar penjelasan si perempuan ber-make-up tebal itu. “Keponakan saya kena peras!”

“Oiya?” Vero membelalak. Aku ngeri mendengar penuturan itu. Maka, balagita yang menangis itu lalu kubiarkan saja.

“Siapa pemeras itu, Madam?” tanya Vero, berbisik pada perempuan itu.
“Siapa lagi, kalau bukan penghuni Tondo!” jawabnya, sinis.
Yang dimaksud penghuni Tondo adalah kaum papa yang tinggal di Tondo – wilayah slum di Metro Manila. Tahun ‘90-an Tondo dihuni sekitar 250.000 jiwa, menempati sekitar 17.000 gubuk dan rumah kertas di areal hanya sekitar 1,5 KM2. Bisa dibayangkan, betapa parahnya kemiskinan mereka.

“Maaf, tapi tidak semua warga Tondo itu tukang peras seperti yang Nyonya ceritakan. Masih lebih banyak yang baik. Saya bekerja untuk mereka,” kata seorang perempuan setengah baya, mengenakan rok panjang dan berkerudung warna khaki, mendekati kami.

“O, bagus kalau begitu. Sayangnya, aku tidak tahu itu! Permisi.” sahut si perempuan ber-make-up tebal, bersungut-sungut. Tahu-tahu, yang tinggal hanya aku, Vero, balagita yang menangis dan perempuan yang mengaku bekerja untuk warga Tondo.

“Nama saya Elita Santiago – dari Ilalang Putih – sebuah Ornop di Manila. Aktivitas kami di bidang pemberdayaan perempuan. Panggil saja saya – Elita!” ia memperkenalkan diri padaku dan Vero.

Kuamati, ia berparas manis-ceria, walau penampilannya sederhana.
Vero ganti memperkenalkan diri dan juga memperkenalkanku, “Saya Veronica asal Prancis, tinggal di sini bersama bibi saya. Ini, teman saya, Ita Puspita, dari Indonesia.!”
“Oh, senang sekali saya berkenalan dengan Anda berdua.“ Elita tersenyum. Kemudian ia bertanya, “Anak siapa balagita yang menangis ini?”
Vero menjelaskan keberadaan si balagita bersama kami. Elita menanggapi dengan cepat, “O, balagita ini mesti kita tolong. Ia mencari ibunya!”
“Tapi, saya takut ee….dituduh penculik,” tanggap Vero spontan..
“Saya juga takut..,” aku menimpali.
“Rupanya kalian telah terhasut omong kosong si Nyonya tadi ya?” Elita geram, “Si miskin memang selalu disalahkan, dipojokkan, dicurigai.. Kalian takut, balagita ini anak warga Tondo yang mau memeras? Jadi kalian takut menolongnya?”
“E.. saya takut berbuat salah Elita,” kataku, “Di sini saya orang asing…,”
“Saya juga!” imbuh Vero.
“Saya paham,” Elita menatap kami. .Hanya dalam hitungan detik, Elita menggendong balagita dan airmatanya diusap airmatanya dengan tisu. Berbuat demikian, Elita sambil bicara dengan nada lemah, mirip monolog:
“Menjadi bagian dari sejarah, siapa saja yang miskin di dunia ini hanya pantas jadi keranjang sampah, tempat menimbun tuduhan-tuduhan yang menyakitkan. Jika kaum miskin tidak bisa makan, mereka dituduh malas. Jika kaum miskin bisa makan sehari tiga kali, akan dicurigai, ditanya, mereka mencuri makanan dari mana. Orang-orang kaya dan pejabat tinggi lupa, bahwa banyaknya orang miskin itulah yang mereka jadikan bahan proposal, usulan proyek yang bisa mereka korup. Singkatnya, luasnya kemiskinan adalah komoditas yang yang laku keras dan merupakan sumber kekayaan mereka.”

“Akan you bawa ke mana balagita itu?” tanya Vero, setelah Elita selesai berbicara.

“Ke bagian informasi. Ia akan saya umumkan, agar mereka yang merasa kehilangan anaknya cepat menjumpainya. Kalau balagita ini tidak ada yang mengambil, ia akan saya bawa ke kantor saya,” sahut Elita tegas..

Aku dan Vero mengikutinya. Kuperhatikan, si balagita begitu tenang di dalam gendongan Elita. Ia tidak memperhatikanku lagi.

“You di mall ini apa memang sedang bertugas untuk menolong anak-anak yang terpisah dari orangtuamya atau ada keperluan lain?” tanya Vero pada Elita.

“Menolong anak-anak yang terpisah dari orangtuanya dan mencari buku.” Sahut Elita . “Sungguh mulia pekerjaanmu, Elita!” puji Vero, “Saya salut!”

“Hanya ini yang bisa saya kerjakan!” tutur Elita lirih, “Hope, bisa melayani sesama.”
“O, hebat sekali!” komentarku spontan.
“Saya pikir semua orang bisa menjadi hebat, asalkan mau melakukan. Anda berdua bisa memulainya dari hal yang kecil-kecil!” Elita tersenyum, “Misalnya, bersikap ramah terhadap anak jalanan. Itu dulu saja. Mereka akan senang mendapat sikap ramah itu!”
Benar juga, pikirku. Aku dan Vero berpandang-pandangan penuh arti.
Elita memberi isyarat akan berhenti sejenak. Ia membeli es krim untuk si balagita. Vero membuka dompetnya untuk membayar es krim itu. Uang Vero ditolaknya. Elita membayar es krim itu dengan kupon. Katanya, kupon itu pemberian dari Donna Lolita de Lopez. Ia istri ‘raja gula’ salah seorang donatur tetap LSM Ilalang Putih. Khususnya, mendanai pendidikan bagi calon pramuwisma yang mau bekerja di luar negeri

“Para perempuan yang akan jadi pembantu rumah-tangga dididik, didanai Donna Lolita?” tanyaku, memperjelas peran Donna Lolita.
“Benar. Tentu Anda tahu, Filipina juga pengirim tenaga pramuwisma. Ya, seperti negeri Anda – Indonesia,” Elita memandangiku, “Pramuwisma Indonesia yang bekerja di luar negeri disebut Te-Ka-We ya?”
“Iya, benar. Tapi, kualitasnya belum sebagus TKW negeri Anda. Saya baca di surat kabar, TKW Filipina itu professional dan kompak,” tanggapku.

Mata Elita berbinar-binar, mendengar tanggapanku. Vero mengomentari TKW Indonesia dengan cemas, “Aku pernah baca di koran, banyak TKW Indonesia yang diperkosa di Timur Tengah dan ada juga yang dihukum gantung. Terusss, ee…ada juga yang disiksa di Singapura dan Malaysia. Tapi, pemerintah Indonesia tidak membela mereka secara serius. Sedangkan pemerintah Filipina memprotek TKW-nya dengan baik.. Mereka ini digelari pahlawan devisa. TKW Indonesia mengapa tidak bernasib sebaik TKW Filipina?”

“Karena, TKW Indonesia bukan TKW Filipina,” sahutku, sengaja asbun – asal bunyi..
“Ah, responmu gombal!” Vero kesal.
“Agar bermutu, tanyalah pada Elita,” sahutku.
Elita tersenyum, “Ah, saya tidak tahu banyak. Saya hanya bisa mengira-ngira, barangkali TKW Filipina lebih berkualitas, karena dididik secara profesional. Sedangkan TKW Indonesia belum dididik secara optimal..”
“Begitukah, Ita?” tanya Vero, memandangiku.
“Ya, setahuku memang begitu, Vero!” sahutku dengan malu, campur sedih.

“Seorang teman saya, aktivis perempuan di Jakarta, pernah cerita kepada saya, bahwa penempatan TKW Indonesia juga asal-asalan. Gaji mereka juga banyak yang diselewengkan oleh agen penyalur TKW tersebut. Jadi, cukup banyak TKW yang hanya menjadi sapi perah.!” kata Elita lirih.

“Bagaimana cara mendidik TKW Filipina?” tanya Vero, aku juga ingin tahu..

.”Mereka dibekali skills secara khusus!” tegas Elita, “Misalnya, para perempuan yang suka otak-atik pakaian diajari menjahit dan laundry agar bisa kerja di perusahaan garment, butik atau di laundry. Mereka yang suka masak, diajari cara memasak yang benar dan mengenali berbagai menu negara yang akan menjadi tujuan mereka bekerja. Agar mereka bisa menjadi koki professional atau paling tidak koki rumah-tangga. Para perempuan yang sayang anak, dididik jadi baby-sitter, ya..cara merawat dan mengasuh anak hingga menghafal lullaby – lagu nina-bobok untuk masing-masing negara yang menjadi tujuan mereka bekerja and many more ….”

“Jadi, mereka diberi skills berdasarkan minat yang disukainya?” selaku.

“Ya. Kami percaya, seseorang akan bekerja dengan baik, apabila ia menyukai pekerjaannya. Ternyata benar. TKW Filipina berjaya di luar negeri, gajinya besar dan tidak dianiaya.” Elita tersenyum, “Oya, kami juga memutar video film berbagai negara dan budayanya, yang menjadi tujuan para TKW bekerja, agar mereka sedikit mengenal negara yang akan ditujunya. Sehingga mereka tidak terlalu sulit menyesuaikan diri. Pembekalan bahasa sangat perlu, sebagai alat komunikasi. Etika, adat-istiadat setempat juga kami berikan, walau hanya sedikit.”

“O, komplit sekali!” komentar Vero.
“Kami terus berusaha memberikan training yang terbaik, agar mereka tidak diperlakukan seperti binatang waktu bekerja di luar negeri.” Elita semangat..
Kami telah sampai di bagian informasi. Elita meminta petugas informasi mengumumkan balagita yang dibawanya itu. Sekitar 15 menit kemudian, muncul seorang perempuan muda, mengenakan blus serupa dengan blus-ku.
“Mana anak saya?” tanyanya tergopoh-gopoh, menghampiri petugas informasi.

Elita langsung membelalak begitu melihat ibu yang mengaku kehilangan balagita. “Ermita, ternyata kamu yang kehilangan anak. Kemana saja kamu sampai tidak tahu anakmu hilang?” Elita melototi perempuan yang dipanggilnya Ermita.

“Maaf, Suster…tadi saya ke rest-room. Melissa, anak saya ini, saya suruh tunggu di luar kamar kecil.
E…tahu-tahu dia ngilang.. Puji Tuhan, Suster menemukannya.” Ermita terharu, menerima Melissa dari gendongan Elita. Melissa masih lelap tidur.

“Yang menemukan Melissa kedua nona ini, Miss Vero dari Prancis dan Miss Puspita dari Indonesia, sedang liburan di Manila. Tadi, Melissa mengira Miss Puspita itu mamanya. ” Tutur Elita beruntun.

“O, maaf. Karena, baju saya dan baju Anda sama. Rambut saya panjang, rambut Anda juga. Jadi, tidak aneh kalau Melissa mengira Anda mamanya,” Ermita tersipu-sipu.

Vero meledekku, “Ita, makanya kalau beli baju yang eksklusif, agar tidak ada yang menyamai!”

Ledekan Vero membuat kami semua tertawa. Setelah tawa kami reda, Elita memperkenalkan Ermita , “Vero, Ita,….. Ermita ini salah satu TKW Filipina yang sukses bekerja di Singapore selama delapan tahun sebagai babby-sitter. Gajinya yang ditabung bisa untuk membeli rumah dan modal usaha suaminya, membuka warung mie. Sebelum jadi TKW, Ermita tinggal di Tondo. Sekarang, Ermita dan keluarganya tinggal di distrik lebih baik. TKW Filipina yang pernah bekerja di luar negeri, pada umumnya mampu memperbaiki taraf hidupnya. Ini membanggakan!” tegas Elita.

“Puji Tuhan! Sekarang saya merasakan, Manila bukan hanya tempat untuk mencucurkan air mata,” Ermita bersyukur.

“Bahkan, Ermita ini sekarang jadi trainer babysitter calon-calon TKW yang akan dikirim ke luar negeri. Wuah, suaranya merdu sekali kalau membawakan lullaby. Ia hafal lullaby dari empat-puluh negara di Asia Tenggara, Timur Tengah dan Amerika Latin.!” puji Elita.

“Itu, berkat bimbingan Suster Elita,” kata Ermita tulus dan bangga.

* Keesokan harinya aku dan Vero berkunjung ke tempat pelatihan calon pramuwisma yang dibina oleh Yayasan Ilalang Putih dan Elita sebagai koordinatornya. Berbagai kegiatan training TKW yang kusaksikan, ternyata lebih baik dari apa yang diceritakan Elita. Hati kecilku lalu bertanya, “Kapan TKW Indonesia mendapat pendidikan seperti TKW Filipina agar tidak dijadikan sapi perah maupun obyek kekerasan?” *