TEKS SULUH


Selasa, 11 April 2017

Salimi Ahmad, Permainan Lidah di Lumbung Puisi Jilid V



36.
Salimi Ahmad

Permainan Lidah

Permainan lidahmu sudah seperti belitan ular sanca. Menari-nari di antara rongga mulut. Mengacaukan pikiranku. Laksana telah membawaku ikut berlari. Dan aku merasa lelah, menerobos tempat yang tak pernah kukenali. Tak pernah kusinggahi. Tapi kutahu betul, apa arti perayaan, yang berakhir di tengah malam.

Kau lumat pikiranku dengan lidah dan mulutmu.

Sekujur tubuhku kau siram dengan wewangian yang kau pungut entah dari buku apa, siapa penulisnya. Kau kutip wejangan bijak, seraya sambil berbisik mesra dengan satu desahan yang teramat muskil untuk kutolak. Tapi ketika kau sebut namanya, tak pernah kukenali dia pernah hidup di mana.

Sesungguhnya aku tak bisa diam. Terlebih untuk waktu yang cukup lama.

Tapi hari itu, aku enggan mengikuti permainanmu, meski pun aku telah menggoyang-goyangkan isi otakku. Aku lebih suka memandangi lampu temaram.

Sebuah siluet hitam tiba-tiba menyergapku di ujung pangkal lampu itu. Bayangan itu membuat kedutan yang tak bisa kutahan di punggungku. Seolah datang dari campuran rasa ngilu, sesak napas, dan geli yang kandas.

Cepat saja ujung jari telunjukku menekannya. Masih sampai, di sela bongkol, dari lipatan tulang lengan.

Kutekan-tekan sambil menarik napas. Tapi permainan lidahmu tak juga berhenti, membuatku basah.

Aku mengangkat lenganku ke atas. Seperti orang menyerah. Tapi bukan kepadamu.

Sesungguhnya aku ingin merentakkan tulang-tulang di punggungku. Agar lebih terlihat rileks.

Beberapa tulang persendian di punggungku terdengar berkeretek. Lalu kutarik, ah mungkin lebih tepat bila kukatakan mendorongnya ke belakang. Selayaknya orang yang sedang membusungkan dada. Beberapa kali terdengar bunyi keretekan lagi. Duh. Terasa lebih nyaman sekarang. Kugerak-gerakkan leherku. Memijatnya di titik tertentu, lalu merebahkan punggung badanku, bersandar.

Aku memandangmu.

Permainan lidah dan mulutmu kembali seperti belitan ular sanca. Kau lumat segala yang ada di depanmu. Aku terpana. Tiba-tiba kau menangis. Sesegukan disertai sedih yang sangat.

“Aku telah kehilangan harga diriku. Sebab, apa yang kuucap dengan lidah dan mulutku, tak pernah benar-benar kukerjakan sebagaimana kuminta kau mengerjakannya.”